Virus dan penyakit infeksi yang menyerang tangan, kaki, dan mulut relatif terjadi pada bayi dan anak-anak. Itu disebabkan bayi dan anak-anak memiliki sistem kekebalan tubuh yang berada dalam proses pematangan.
Jenis infeksi ini sering beredar di pusat penitipan anak ataupun sekolah. Wabah bisa jadi sangat parah, hingga tak jarang sekolah menghentikan kegiatan belajar mengajar sampai kuman yang menyebar berhasil dihentikan.
Untuk lebih menjawab beragam pertanyaan terkait virus infeksi, Dr Nuthaitip Kashemsri Na Aydhaya dari Samitivej Sukhumvit Hospital, Bangkok, Thailand memberikan ulasannya.
Karakteristik gejalaPenyakit tangan, kaki, dan mulut adalah penyakit menular yang karakteristiknya ditandai dengan demam ringan, nyeri pada daerah mulut, dan ruam yang melepuh. Penyakit ini biasanya dimulai dengan demam, disertai nafsu makan berkurang, perasaan tidak nyaman, dan biasanya sakit tenggorokan. Hal ini dapat menyebabkan bayi dan balita yang terinfeksi menjadi uring-uringan.
Satu atau dua hari setelah timbul demam, karakteristik nyeri pada daerah mulut mulai muncul. Penyakit ini diawali dengan bintik-bintik merah kecil yang melepuh dan kemudian sering menjadi borok di lidah, gusi dan bagian dalam pipi.
Pada awalnya, ruam tidak melepuh, namun dalam satu sampai dua hari akan menjadi seperti bisul dan melendung. Ruam tidak selalu gatal, dan biasanya muncul di telapak tangan, telapak kaki, bahkan bokong.
Tidak semua gejala akan muncul dalam setiap kasus, karena sebagian orang bisa saja hanya memiliki ruam dan sebagian lainnya mereasakan sakit dan luka-luka sariawan pada mulut.
Cara mengobatinyaTidak ada pengobatan khusus untuk penyakit tangan, kaki, dan mulut ini. Pengobatan diberikan untuk meredakan gejala seperti demam, nyeri atau rasa sakit sariawan pada mulut. Antibiotik tidak membantu karena penyakit ini disebabkan oleh virus.
Salah satu cara untuk mengurangi risiko terinfeksi adalah melakukan gaya hidup sehat dengan selalu mencuci tangan sebelum melakukan aktivitas secara bersih dan menyeluruh.
Stroke bisa muncul pada siapa saja, terutama mereka yang memiliki faktor risiko. Pencegahan dini tentu menjadi jalan terbaik. Upaya bisa dilakukan lewat serangkaian tes.
Stroke, dalam sebutan medis dikenal penyakit serebrovaskuler adalah suatu kondisi dimana terjadi serangan pada jaringan otak. Serangan terjadi akibat sumbatan, penyempitan, ataupun pecahnya pembuluh darah sehingga terjadi gangguan fungsi (pengurangan aliran darah dan oksigen) ke pusat saraf ini.
Stroke muncul secara tiba-tiba; dalam hitungan detik ataupun menit sehingga dapat terjadi pada siapa saja dan kapan saja. Stroke bukan saja menimbulkan gejala yang temporer, tetapi juga dapat menyebabkan kerusakan permanen.
Cegah stroke secara dini dengan mengenali faktor risiko. Beberapa faktor risiko, seperti usia di atas 50 tahun, kegemukan, kolesterol, diabetes, tekanan darah tinggi, dan kurang olahraga. Jika Anda memiliki faktor risiko seperti dijelaskan, pada umumnya dokter akan menyarankan tentang bagaimana mengurangi faktor risiko stroke.
"Check up medis secara rutin berguna mendeteksi dan mengobati tekanan darah tinggi, diabetes mellitus, kolesterol tinggi, dan penyakit jantung. Fataknya, menerapkan gaya hidup sehat, olahraga teratur, mengurangi stres, dan berhenti merokok akan membantu mencegah terjadinya stroke," papar Dr Keith Goh, Konsultan Bedah Saraf di International Associates Neuro, Novena Medical Centre, Singapura.
Sementara, tes seperti Computerized Tomography (CT) atau Magnetic Resonance Imaging (MRI) merupakan beberapa upaya tetap untuk melihat tanda-tanda stroke pada otak. Sering kali, dokter juga akan meminta angiogram, seperti CT-angiogram atau MR-angiogram untuk memelajari pembuluh darah, dan/atau scan perfusi untuk menilai pola-pola aliran darah tersebut.
Berbagai tes darah juga akan diperlukan untuk menilai risiko stroke secara menyeluruh. Terkadang, obat perlu diberikan, seperti antiplatelet atau antikoagulan untuk mencegah penyumbatan pembuluh darah. Dan jika ada kelainan pembuluh darah yang dapat menyebabkan perdarahan di otak, maka pembedahan mungkin diperlukan.
"Setiap orang memiliki beberapa risiko stroke. Meskipun terdapat beberapa faktor yang tidak bisa dikendalikan, pemeriksaan medis secara rutin dan deteksi dini dapat membantu mengurangi keparahan kondisi stroke seperti kerusakan otak atau bahkan kematian," tandasnya.